Enam belas
tahun sudah Indonesia meraih reformasi yang diimpikan banyak pihak.
Meninggalkan bekas yang tampak terlihat
sangat jelas, mulai dari perubahan sistem
hingga kehidupan masyarakatnya. Juga meninggalkan bekas luka yang amat dalam
bagi bangsa ini sendiri. Indonesia berada pada masa sulit dan mencekam pada
saat itu. Catatan sejarah menuliskan betapa mencekamnya peristiwa yang terjadi
di beberapa kota besar di Indonesia itu. Mei 1998, sejarah dunia mencatat
gejolak di Indonesia. Gejolak yang berujung pada jatuhnya Presiden Soeharto.
Aksi kerusuhan massa, penjarahan, dan pemerkosaan juga berlangsung dengan
brutal. Reformasi terus bergulir, namun pemicu kerusuhan yang sebenarnya masih
bersembunyi di balik debu. Tanda Tanya masih melekat di balik peristiwa yang
memakan banyak korban yang tak berdosa. Gambaran betapa kelamnya sebuah negara
yang masih muda dan memulai untuk berkembang. Indonesia menjadi sorotan dan
perbincangan dunia.
Selasa, 26 Agustus 2014
Puisi untuk Munir
MUNIR TAK PERNAH MATI
Jasadmu mungkin sudah lapuk tak berbentuk
Lantang suaramu mungkin sudah tak pernah terdengar
Mereka katakan kau sudah mati
Lantang suaramu mungkin sudah tak pernah terdengar
Mereka katakan kau sudah mati
Namun sesungguhnya …
Kau tak pernah mati
Kau tetap hidup dengan pemikiranmu
Kau tetap berdiri dengan keberanianmu
Kau tetap kibarkan bendera kemanusiaanmu
Kau tak pernah mati
Kau tetap hidup dengan pemikiranmu
Kau tetap berdiri dengan keberanianmu
Kau tetap kibarkan bendera kemanusiaanmu
Mereka katakan kau sudah mati
Namun sesungguhnya …
Kau tak pernah mati
Kau tetap hidup dengan kebenaran
Meski penguasa malas mencari kebenaran
Kau tetap hidup dengan penghargaan hak manusia
Meski penguasa tak peduli dengan hak manusia
Namun sesungguhnya …
Kau tak pernah mati
Kau tetap hidup dengan kebenaran
Meski penguasa malas mencari kebenaran
Kau tetap hidup dengan penghargaan hak manusia
Meski penguasa tak peduli dengan hak manusia
Biarlah seperti ini …
Mungkin ini sudah digariskan
Setiap tahun akan banyak orang berdiri
Mengenang dan menuntut siapa dalang pembunuhmu
Mungkin sampai 100 tahun lagi …
Mungkin sampai 1000 tahun lagi …
Seperti menjadi … ‘tes sejarah bangsa’
Bagi penguasa zaman yang adil
Mungkin ini sudah digariskan
Setiap tahun akan banyak orang berdiri
Mengenang dan menuntut siapa dalang pembunuhmu
Mungkin sampai 100 tahun lagi …
Mungkin sampai 1000 tahun lagi …
Seperti menjadi … ‘tes sejarah bangsa’
Bagi penguasa zaman yang adil
Tetap hidup sahabat …
By Munif Chatib
Pahlawan Devisa
Bertepatan
dengan momentum hari Kartini yang baru saja kita peringati tanggal 21 April
kemarin, membuat kita kembali mengingat dengan persoalan perempuan yang hingga
saat ini tak kunjung usai. Di era globalisasi ini, perempuan juga dituntut
untuk berperan aktif dalam hal politik, pendidikan dan ekonomi khususnya.
Tuntutan dalam hal ekonomi sudah tidak dapat dielakkan lagi, namun realitas
yang terjadi dijaman sekarang tak ubahnya seperti jaman jahiliyah, yang masih
memperlakukan perempuan dengan tidak manusiawi. Mungkin hanya caranya yang
berbeda, dahulu apabila ada seorang ibu yang melahirkan anak perempuan, itu
adalah sebuah aib dan haruslah anak itu dikubur hidup-hidup.Layak kiranya kita sebut
neo-jahiliyah. Kita berkaca pada Marsinah, buruh perempuan yang menggetarkan
rejim dan membuat kita sadar betapa termajinalkannya status perempuan. Dijaman
sekarang saja, ada sekitar 80% dari buruh adalah seorang perempuan. Dan 75% dari perempuan itu pernah mengalami
kekerasan seksual. Bagaimana tidak ngeri ketika harus mendengar diberbagai
surat kabar bahwa setiap harinya selalu terjadi pelecehan seksual ataupun
kekerasan yang dilakukan majikan terhadap buruh perempuan, dan itu juga banyak
terjadi di negeri kita sendiri. Dengan eksploitasi upah minim, tidak ada
jaminan kesehatan ataupun jaminan sosial, para buruh perempuan masih harus
mendapatkan perlakuan yang sewenang-wenang.
Terlepas
dari buruh perempuan di negeri kita sendiri, baru-baru ini santer memanas isu
nasional yang menyoalkan Satinah. Satinah adalah Tenaga Kerja Wanita (TKI)
indonesia yang terancam hukuman pancung di Arab Saudi. Berawal dari ketidaktahanan dengan perlakukan
kasar yang berkali-kali diterima dari majikannya, Nura Al Gharib, akhirnya pada
2007 Satinah melawan hingga terjadi
peristiwa pembunuhan. Satinah langsung menyerahkan diri ke kantor polisi
setempat untuk mengakui perbuatannya. Satinah juga dikenai pasal perampokan
karena dianggap melarikan uang majikan sebesar 37.970 riyal hingga Satinah
diadili pada 2009-2010. Rencananya, Satinah
akan dieksekusi pemerintah Saudi pada April mendatang. Eksekusi dapat batalkan
jika pemerintah Indonesia mampu membayar uang denda sebesar Rp21 miliar. Namun Pro
dan kontra masih membanjir terkait keputusan pemerintah untuk membayarkan diyat
(uang darah) demi menyelamatkan nyawa TKI Satinah binti Jumadi Ahmad.
Masalahnya sekarang, masih ada lebih dari 200 kasus yang hampir sama yang
terjadi pada TKI. Apakah pemerintah berniat membayar semua uang diyat tersebut?
Tugas pemerintah sekarang adalah menciptakan hukum untuk melindungi para TKI di
luar negeri. Dimanakah peran pemerintah dalam perlindungan warganya ? Satinah
adalah satu diantara ratusan kasus yang dialami oleh TKI kita. Tidak dapat
menyediakan lapangan kerja yang cukup bagi rakyatnya, sehingga banyak yang
mencari pekerjaan di luar negeri, sudah merupakan suatu kesalahan yang
dilakukan pemerintah. Apalagi jika pemerintah tidak bisa melindungi para
pekerja yang dianggap sebagai penyumbang devisa terbesar bagi negara.Dimanakah
peran pemerintah ?
Langganan:
Postingan (Atom)